Senin, 24 September 2012

semangkuk nasi putih

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang
kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah
rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran
sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam
restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."

Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :

"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum :

"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis."

Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak
lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada
pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,

hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?

Suaminya kemudian membisik kepadanya :

"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"

katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang
pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,

pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur,

tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.

"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan
bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.

Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Rabu, 05 September 2012

SEPATU SANG RAJA


Sepatu Sang Raja
Seorang raja berjalan kaki melihat-lihat keadaan ibu kota. Di jalan depan istana, kakinya terluka karena menginjak batu tajam.
“Jalan di depan istana ini sangat buruk. Aku harus memperbaikinya,” begitu pikirnya.
Maka, Sang Raja segera merumuskan proyek untuk memperbaiki jalan di depan istana itu. Ia ingin jalan itu dilapisi dengan kulit sapi terbaik, agar siapapun yang melewatinya tidak terluka. Persiapan mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan.
Di tengah kesibukan luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan berkata, “Wahai Paduka. Mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan tersebut, padahal yang Paduka perlukan hanya dua potong kulit sapi untuk sepatu yang berfungsi melapisi telapak kaki Paduka?”

Senin, 13 Agustus 2012

4 JENIS KASIH


KASIH
Tema sentral dalam surat 1 Korintus 13 adalah Kasih.  Definisi kasih dijabarkan secara sederhana dan rinci oleh rasul Paulus.  Allah adalah Kasih; Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, demikianlah Firman Tuhan –
1 Yohanes 4:8.
Dalam bahasa Yunani, Alkitab mengenal empat jenis Kasih:
1.      Agape – kasih tertinggi, yaitu Kasih Allah.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
– Yohanes 3:16.
2.      Phileo – Kasih Persaudaraan/Persahabatan; kasih antar sesama.
“Peliharalah kasih persaudaraan” – Ibrani 13:1.
Kasih persaudaraan harus ada di antara kita: sesama jemaat, anggota tubuh Kristus.  Dunia mengajarkan, “kasihilah saudaramu, tetapi bencilah musuhmu”. Tetapi Tuhan Yesus mengajar saudara dan saya justru untuk “mengasihi musuhmu”.
Puji Tuhan, Orang Kristen dikenal sebagai orang yang penuh kasih:
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” – Yohanes 13:35.
3.      Storge – Kasih antara orangtua dan anak-anak, atau antara saudara kandung.
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” – Roma 12:10.
4.      Eros – Lebih pada ketertarikan secara fisik; kasih antara pasangan kekasih
   atau suami isteri.  Dari kata ini kita mengenal kata ‘erotis’.  

Kamis, 09 Agustus 2012

Rumput VS Padi




Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh...
TAPI saat kita menanam rumput, tdk pernah tumbuh padi...

Dlm melakukan Kebaikan, kadang² hal yğ buruk turut menyertai...
NAMUN saat melakukan Keburukan, tdk pernah ada kebaikan bersamanya.

Jangan Bosan berbuat baik, meski kadang tidak Sempurna.
Manusia Sempurna justru krn memiliki Kekurangan ϑí samping Kelebihan & Kelemahan selain Kekuatannya

Kunci Sukses



Rabu, 08 Agustus 2012

Rumah Tukang Kayu



Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate.
Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami."
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.
Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Dan pada akhirnya, semuanya jadi terlambat!
Mari kita selesaikan "rumah" kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.
Biarpun kita hanya hidup satu hari lagi, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.
Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.

Selasa, 07 Agustus 2012

BERHENTI MENJADI GELAS


(Maz 57:8-12)

Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. "Kenapa Kau Murung, nak? bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?" sang bertanya. "Guru, hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis2nya." jawab sang murid. Sang guru tersenyum. "Nak ambillah segelas air dan 2 genggam garam, bawalah kemari." simurid pun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya.
"Coba ambil segenggam garam dan masukan kegelas air itu." Kata gurunya." sekarang kau minum airnya sedikit." simurid pun melakukannya. wajahnya meringis karena minum air asin. "bagaimana rasanya?" tanya sang guru. "asin sekali dan perutku jadi mual," jawab simurid dengan meringis. sang guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. 
"sekarang kau ikut aku". sang guru membawa muridnya kedanau didekat tempat pondokan mereka. "Ambil garam yang tersisa dan tebarkan kedanau." simurid menebarkan garam yang tersisa kedanau tanpa bicara, rasa asin dimulutnya belum hilang. "Sekarang coba kau minum air danau itu". kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk mereka duduki, tepat dipinggir danau. Simurid menangkubkan ke2 tangannya, mengambil air danau dan meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir kekerongkongannya, sang guru bertanya, "bagaimana rasanya?"." segar sekali," kata si murid sambil melap bibirnya. "terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. "nak, kata sang guru, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam, tidak kurang tidak lebih, hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderiataan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu, jumlahnya tetap, segitu-gitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah, setiap manuasia yang lahir kedunia ini pun demikian, tidak ada satupun manusia walaupun dia seorang nabi yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa "asin" dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak supaya tidak merasa menderita berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadanu itu sebesar danau. "Simurid terdiam, mendengarkan.
"Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan sanggup menampung setiap perkara yang terjadi di dalam hidup kita!"

Kata Bijak:
“HATI YANG KECIL AKAN MENJADI SESAK OLEH MASALAH, SEKALIPUN OLEH MASALAH YANG KECIL"

Tuhan Yesus memberkati..